vendredi 27 janvier 2012

Cemal-Cemil

Sebuah kesempatan yang sangat luar biasa saya habiskan bersama Riri, memang dalam beberapa bulan belakangan ini kami jarang mengahabiskan waktu bersama, kalau ditanya kenapa? mungkin memang saya pasti dibilang 'sok sibuk' menurut Riri.

Hari itu memang kami sepakat untuk berkeliling kota saja, karena faktor usia juga mungkin yang membuat kami enggan untuk sekedar mengabiskan waktu di bioskop atau pun mal, setelah berputar-putar akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi toko souvenir di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Dekorasi toko Cemal-Cemil

'Cemal-Cemil' adalah sebuah toko yang menjual aneka cemilan dan souvenir tempo dulu, kami pun seperti bernostalgia saat memasuki toko mungil ini. Mungkin anak-anak yang saat ini seusia saya (yang lahir pada tahun 90an) mengenal berbagai macam mainan di toko ini, mulai dari Perahu yang dibakar dengan api hingga berbunyi 'bletek-beletek', balon tiup, sampai miniatur bajaj dan bus tingkat yang dulu banyak dijual disekitar makam pahlawan kalibata.

Untuk cemilan sendiri, banyak jenis yang ditawarkan, mulai dari permen rootbeer, permen cicak, rambut nenek, cokelat jago rasa jeruk, dan masih banyak lagi. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau dengan 5000-300 ribu rupiah kita bisa membeli berbagai macam produk yang ada ditoko ini. Tetapi ada juga berbagai produk yang tidak dijual karena alasan langka dan juga untuk hiasan di toko tersebut. Ukuran toko yang berkisar 3meter x 5meter ini dapat memberikan kesana 'djadoel' bagi para pengunjung, konsep yang ditawarkannya juga sangat menarik "karena kita benar-benar mendesain toko ini seperti zaman dahulu." jelas penjaga toko tersebut.

Bisa dilihat, ibu ini saja sampai borong belanjaan.:D


Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya, jadi untuk kalian yang ingin bernostalgia, atau sekedar untuk mengenalkan mainan tradisional yang terlupakan kalian bisa langsung datang ke toko Cemal Cemil di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Era Informatika

Terkadang kita semakin dimanjakan oleh kemajuan zaman, nah kali ini saya akan melihat sisi lain dari kemajuan Teknologi, terkadang kita sendiri suka dibuat bodoh akan kemajuan ini. Ini mungkin sering kita alami, saat orang menanyakan kabar atau sekedar mengirimkan pesan lewat sms/bbm, justru bukan sms/bbm yang kita terima, melainkan tweet di Twitter. Ironis memang, tapi itulah kemajuan zaman, padahal belum tentu semua orang 'pantengin' timeline twitter. Inilah komik yang saya buat untuk kita semua.

mercredi 25 janvier 2012

Jingga

Sebuah lagu yang saya tulis dengan menceritakan perjalanan dari Heels Phobia. "Terdengar cengeng?" Eits, engga juga...karena saya tetap berusaha membangun ambiance yang dingin, merenung, namun tidak 'menye'. Sebenarnya saya dan Hedi memiliki lagu yang lain untuk di take pada saat akhir tahun 2011, namun satu dan lain hal memutuskan kami berdua merubah total semua yang sudah dirancang.

Terbayang tidak kalau lagu ini diciptakan hanya satu hari dan lahir hanya dari obrolan ringan tentang perjalanan Heels Phobia? Dan lucunya lagi saya yang sedang asik bercerita ditangkap hedi sebagai ide untuk menulis lirik baru tentang Heels Phobia. Satu hari full kami habiskan untuk mematangkan lagu tersebut dan voila 'Jingga' tercipta sebagai lagu kami yang baru.

Saya sangat menyukai lagu ini, entah kenapa? mungkin karena pengalaman pribadi dan ditambah emosinya pun dapat. Hehehe... selain itu di lagu ini kami berkolaborasi dengan musisi (menurut saya dia sudah menjadi Seniman sejati) Fiersa Besari. Tidak bisa dipungkiri memang Ia, cukup banyak memberikan masukan bagi karya-karya kami, dan untuk saya kesempatan untuk berkolaborasi seperti ini sangatlah berkesan. Begitu pula karakter vokal Fiersa yang kuat dan kering, mampu memberikan warna yang lain pada lagu ini.

Jujur, saya sendiri masih belum percaya lagu Jingga ini dapat menjadi 'sedingin ini', semuanya memang mengalami aransemen yang berbeda saat di Track, namun overall menjadikan lagu ini sebagai karya yang paling berkesan untuk saya.

Penasaran dengan lagu Jingga dari Heels Phobia?
Liat saja langsung ke myspace.com/heelsphobia

Untuk Semua Orang yang mendukung Heels Phobia sampai saat ini.

mardi 10 janvier 2012

Konser Musik

Dewasa ini semakin banyak musisi mancanegara yang mengadakan konser di Indonesia. Sebut saja Bruno Mars, Kings of Convenience, Pitbul, Mike Foster, Justin Beiber, Mogwai, sampai yang ditunggu di awal tahun ini. Yap..Katy Perry. Terkadang saya lucu melihat fenomena ini. Jujur dari kesemuanya itu saya hanya menyukai Kings of Convenience malah lebih suka The Whitest Boy Alive.
Oke, kita sampingkan perihal suka atau tidaknya. Pada satu kesempatan saya berbincang kepada rekan saya Andi Ibnu Masri, "Kenapa yah orang-orang rela bayar mahal untuk sebuah konser yang paling dia cuma hafal 2-3 lagunya saja dari si penyanyi/band tersebut?" Aii berpendapat "Bisa dilihatlah, itu semua sudah menjadi gaya hidup lik. Mungkin dikepala anak muda jaman sekarang 'masa bodo gue cuma apal 2-3 lagu doang' yang penting gue eksis!"
Kalau dipikir-pikir memang betul juga apa kata dia, dahulu kalau mau pacaran atau sekedar 'ngeksis' lebih baik ke mall atau ke bioskop, tetapi sekarang konser musik sudah menjadi bagian gaya hidup. Melalui dialog singkat tersebut saya mencoba menuangkannya dalam sebuah komik dibawah ini. Percaya atau tidak tetapi memang fenomena ini ada.

saliki dwi saputra

dimanche 8 janvier 2012

Master Chef

Tadinya saya hanya mencicipi makanan itu kenalnya 'Enak dan Tidak Enak', namun dengan boomingnya cara masak memasak, menjadikan saya peka terhadap cita rasa makanan. Tentunya hal ini juga menginspirasi kisah komik saya berikut ini.

lundi 26 décembre 2011

Andai Saya Menjadi Angota DPD "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya"

Suatu hal yang luar biasa bila saya menjadi anggota DPD, entah itu sebuah anugerah atau malah sebaliknya, karena menurut saya menjadi seorang pemimpin bukanlah perkara yang mudah. Itu semua adalah amanat orang banyak yang harus kita jaga. Disini saya juga tidak akan membahas mengenai program apa yang akan saya lakukan untuk masyarakat daerha khususnya, karena bisa dibilang program dan ide-ide yang sudah ada, sangat baik dan inovatif untuk pembangunan daerah.

Tanpa bermaksud menyalahkan sistem yang sudah ada, saya rasa hanya ada sedikit metode yang kurnag tepat sehingga banyak dari ide-ide tersebut sulit untuk terealisasikan. "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya." Dari pribahasa tersebut mungkin kita bisa memulai masalah ini.

Awal tahun 2011, saya mengikuti kuliah kerja nyata di sebuah desa, daerah Sumedang. Maslaah yang sedang ada di daerah tersebut adalah pembebasan tanah, namun sungguh ironis karena, banyak masyarakat yang 'melek pendidikan' justru membodohi mereka yang 'buta pendidikan', dan sebaliknya kepintaran mereka seolah menghapuskan nilai-nilai sosial-kultural yang ada pada masyarakat tersebut. Takhayal aparat daerah yang seharusnya mendengarkan mereka yang tidak berdaya sekarang lebih memihak mereka yang punya uang dan kekuasaan.

Dalam hal ini seharusnya seorang Dewan Perwakilan Daerah haruslah lebih peka terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat. Bila kita perhatikan akhir-akhir ini banyak permasalahan yang terjadi, seperti di Mesuji, Bima, dan Papua adalah efek dari kejenuhan masyarakat yang aspirasinya tidak pernah didengarkan.

Memang benar setiap daerah memilik masalah yang berbeda-beda dan oleh sebab itu penanganannya pun harus dilakukan dengan cara yang berbeda pula. Namun disini ada satu solusi yang sama untuk menangani masalah-masalah tersebut. Bila kita lihat dalam sisi psikologis, dewasa ini masyarakat daerah rasanya sudah bosan dengan sejuta ide-ide untuk perubahan dareah mereka. Mereka lebih suka aspirasi mereka didengarkan, dilihat, dan direalisakan. Karena kembali lagi kepada fungsi DPD sebagai lembaga negara untuk menyalurkan aspirasi masyarakat sekaligus mengembangakan pembangunan yang merata di semua daerah di Indonesia.

Barulah setelah itu kita bisa berbicara tentang ide-ide untuk pembagunan daerah, dari pendidikan, ekonomi, sosial, dsb. Karena saya rasa prinsip mendengarkan, merasakan, dan terjun langsung untuk menangani masalah, lebih mudah dan sederhana dibandingkan kita harus menyusun berbagai anggaran untuk program-program pembangunan daerah.

Nyata atau tidak, tetapi hal tersebutlah yang hadir di masyarakat kita. Kompleks? Jelas sangat kompleks. Namun, saya percaya semuanya hanya ingin didengarkan untuk suatu perbuahan yang mebias dalam nilai-nilai sosial-kultural daerah untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Untuk soal ide-ide yang ada sekarang, saya rasa sudah sangat baik sekali untuk perubahan dan pembangunan daerah. Sekarang bagaimana ide-ide tersebut dapat kita masukan dalam lapisan masyarakat daerah yang homogen. Mungkin itulah sedikit asumsi saya bila saya menjadi anggota DPD.

lundi 5 décembre 2011

Tahun yang Prihatin

Satu alasan yang membuat tahun ini menjadi prihatin adalah KULIAH. Semester tujuh ini memang bukan semester yang bisa dibilang mudah untuk saya. Awal bulan ini saya sudah dicengangkan oleh UAS, tugas-tugas dari berbagai matakuliah, dan tidak terasa awal tahun depan saya harus bersiap untuk Seminiar Sastra. "Yah, semuanya memang tidak mudah." katanya orang bijak.

Mungkin kegilaan ini sedikit membuat saya religius, *tanpa mengurangi rasa hormat, memang kebanyakan itulah sifat manusia. Saya cendrung melakukan aktifitas dengan dunia saya, tidak ada waktu untuk bermain, pacaran, jalan-jalan, bahkan makan pun menjadi jarang. Jujur saya sendiri sebenarnya kurang suka dengan sikap saya ini, yaitu sulit mengontrol emosi. Tak heran kalau saya sedang stress atau bahkan capek, saya akan berubah menjadi orang yang sensitif dan mudah sekali naik darah. *mungkin itu juga alasan kenapa orang suka menilai saya itu jutek dan kurang bersahabat.

Kembali kepada rutinitas saya belakangan ini, memang itu bukan suatu hal yang mudah. "Semakin tinggi semester semakin tinggi pula juga angin yang menerpa" *itu adalah pribahasa yang sedikit saya modifikasi. Kalau bisa dibilang semua aliran darah di otak saya seperti jalanan di Jakarta, semerawutlah.

Ini bukan seperti hidup saya rasanya. Tetapi itulah bagian dari hidup, kalaupun saya berlari nantinya akan ketemu-ketemu juga, jadi saya harus siap menghadapinya dengan berbagai kemungkinan. Satu yang saya ingat adalah kata-kata dari dosen-dosen sastra saya "Anggaplah tahun ini adalah tahun prihatin supaya kalian semua bisa lulus dengan cepat, tidak usah cari yang susahlah untuk skripsi. Toh, kalaupun sudah lulus pastilah ada faktor X yang mempengaruhi hidup kalian kedepannya yaitu Tuhan." Saya rasa pernyataan Mme.Sri itu lebih Realistis dibandingkan seminar Mario Teguh.

Saya pun sadar, mungkin juga saya bukan mahasiswa yang brilliant atau memiliki IPK yang gemilang. bahkan ada dosen yang berasumsi kalau saya mengalami kelainan dalam membaca atau biasa disebut 'Diseleksia', akan tetapi saya mencoba merubah pola pikir saya mengenai hal itu semua, saya yang mengetahui kemampuan diri saya sendiri, melalui keyakinan ini saya harus berfikir positif serta yakin kalau saya bisa dan saya mampu untuk melawati tantantangan ini.